GEMA BUDAYA DI SDN 49 RABANGODU SELATAN: SEMARAK RIMPU SAMBUT HUT KOTA BIMA KE-24

 [ KOTA BIMA ] [9 APRIL 2026 ] – Suasana berbeda tampak di lingkungan SDN 49 Rabangodu Selatan pada pagi hari ini. Dalam rangka menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bima yang ke-24, para guru dan tenaga kependidikan kompak mengenakan busana tradisional khas suku Mbojo, yakni Rimpu, Kamis (9/4/2026).

Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur sekaligus mengedukasi generasi muda tentang identitas lokal di tengah arus modernisasi. Tembe Nggoli Rimpu merupakan representasi busana tradisional perempuan suku Mbojo di wilayah Bima dan Dompu, NTB. Tradisi ini mengakar kuat sejak masuknya ajaran Islam ke Bima sekitar tahun 1640 M melalui pengaruh mubaligh asal Makassar. Secara filosofis, Rimpu menggabungkan nilai syariat Islam dalam menutup aurat dengan kearifan lokal. Penggunaannya terbagi menjadi dua kategori sosial: Rimpu Cili (hanya memperlihatkan mata) untuk perempuan yang belum menikah, dan Rimpu Colo (memperlihatkan wajah) bagi perempuan yang sudah berkeluarga. Meskipun kini lebih sering dijumpai dalam festival budaya seperti Rimpu Mantika, busana yang menggunakan sarung tenun khas bertekstur adaptif ini tetap menjadi simbol kehormatan dan identitas masyarakat Dou Mbojo.

Warna-Warni Tembe Noli Menghiasi Sekolah

Sejak gerbang sekolah dibuka, para guru perempuan tampil anggun dengan balutan sarung tenun khas Bima (Tembe Noli). Dengan gaya Rimpu Colo, mereka menutup kepala dan tubuh dengan elegan, menyisakan wajah yang tampak berseri menyapa para siswa. Sementara itu, guru laki-laki tampil gagah mengenakan Sambolo (ikat kepala khas Bima) dan Katente.

Kepala Sekolah SDN 49 Rabangodu Selatan menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas perayaan tahunan.

"Kami ingin menunjukkan kepada anak-anak didik bahwa identitas kita sebagai orang Bima sangatlah indah. Dengan mengenakan Rimpu, kami ikut memeriahkan HUT Kota Bima yang ke-24 sekaligus menanamkan rasa bangga terhadap budaya sendiri sejak dini," ujarnya.

Antusiasme Siswa dan Edukasi Budaya

Kehadiran para guru dengan busana tradisional ini menarik perhatian besar dari para siswa. Banyak dari mereka yang penasaran dan bertanya mengenai jenis-jenis tenunan serta cara penggunaan Rimpu yang benar. Momen ini pun dimanfaatkan oleh para guru untuk memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah dan filosofi di balik penggunaan sarung tenun tersebut.

Harapan di Usia ke-24 Melalui semangat "Maja Labo Dahu", keluarga besar SDN 49 Rabangodu Selatan berharap momentum HUT Kota Bima ke-24 ini menjadi titik balik bagi dunia pendidikan di Kota Bima untuk semakin maju, namun tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal.

Perayaan ini menjadi bukti bahwa meskipun zaman terus berubah, semangat untuk menjaga tradisi Mbojo tetap menyala di hati para pendidik di Kota Bima.

Dirgahayu Kota Bima ke-24!

Kota Bima Berbenah, Kota Bima BISA