Tampil Kompak dan Berbudaya, SDN 49 Rabangodu Selatan Semarakkan Pawai Rimpu

[Kota Bima] [25 April 2026] — Pawai Festival Rimpu kembali digelar dengan meriah sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya khas Bima. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda tahunan yang dinantikan masyarakat karena menghadirkan keindahan tradisi dalam balutan nuansa kebersamaan dan kebanggaan daerah.

Sejak pagi hari, kawasan pusat kota telah dipadati peserta dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari organisasi perempuan, komunitas budaya, instansi pemerintahan, hingga kelompok umum. Mereka berkumpul di titik start dengan mengenakan rimpu, pakaian tradisional khas perempuan Bima yang terbuat dari kain tenun (tembe nggoli). Rimpu dikenakan dengan cara melilitkan kain pada tubuh dan kepala, sehingga hanya menyisakan bagian wajah yang terlihat. Cara berpakaian ini mencerminkan nilai kesopanan, perlindungan diri, serta kehormatan perempuan dalam budaya Bima.

Dalam perkembangannya, rimpu memiliki beberapa jenis, seperti rimpu cili yang biasanya dikenakan oleh remaja perempuan, serta rimpu colo yang dikenakan oleh perempuan dewasa. Perbedaan ini tidak hanya terlihat dari cara pemakaian, tetapi juga mengandung makna sosial dalam kehidupan masyarakat Bima.

Pawai dimulai dengan iring-iringan barisan peserta yang berjalan mengikuti rute utama kota. Sepanjang perjalanan, peserta menampilkan kekompakan dalam langkah, formasi barisan, serta yel-yel bernuansa budaya yang menggugah semangat. Beberapa kelompok juga menambahkan sentuhan kreatif seperti atribut tradisional, musik daerah, dan simbol-simbol kearifan lokal untuk memperkaya penampilan mereka.

Suasana semakin semarak dengan kehadiran masyarakat yang memadati sisi jalan. Warga dari berbagai kalangan tampak antusias menyaksikan jalannya pawai, bahkan banyak yang mengabadikan momen menggunakan ponsel. Tepuk tangan dan sorakan dukungan terdengar hampir di sepanjang rute, menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh apresiasi terhadap budaya lokal.

Selain menjadi ajang pertunjukan, Festival Rimpu juga memiliki nilai edukatif dan historis. Tradisi rimpu sendiri telah ada sejak masuknya pengaruh Islam di Bima, yang kemudian membentuk tata cara berpakaian perempuan sesuai dengan nilai-nilai kesopanan dan religiusitas. Hingga kini, rimpu tetap menjadi simbol identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Bima.

Pemerintah Kota Bima menyelenggarakan festival ini tidak hanya sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga sebagai strategi untuk meningkatkan daya tarik wisata daerah. Dengan menampilkan keunikan tradisi rimpu, diharapkan Kota Bima dapat dikenal lebih luas sebagai daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya agar tidak tergerus oleh arus modernisasi. Festival Rimpu menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan bersama di tengah perubahan zaman.